Survei Kelayakan untuk Reaktivasi Jalur KA Banjar-Pangandaran Membutuhkan Dana Rp3 Triliun


PR GARUT

– Pemkot Banjar beserta PT Kereta Api Indonesia (KAI) sedang melaksanakan penilaian feasibilitas infrastruktur guna mendukung revitalisasi jalur kereta api antara Banjar dan Pangandaran. Rencana proyek tersebut diproyeksikan membutuhkan biaya sekitar tiga triliun rupiah.

H. Andi Bastian dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Banjar menyebut bahwa survei lapangan diadakan guna melakukan pengecekan langsung terhadap keadaan jalur kereta beserta fasilitas pendukungnya yang sudah lama tak digunakan.

“Begitu banyak elemen rel kereta dan fasilitasnya telah mengalami kerusakan atau sudah tidak dapat digunakan lagi,” kata Andi ketika dimintai keterangan pada hari Kamis (24/4).

Reaktifiasi jalan yang berkelanjutan hingga 82 kilometer ini dianggap sangat penting oleh Pemprov Jawa Barat. Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa rute Banjar-Pangandaran merupakan fokus terpenting pada program reaktifiasi kereta api dikarenakan adanya peluang besar untuk meningkatkan industri wisata serta ekonomi daerah bagian selatan Jawa Barat.

“Ini adalah pilihan yang paling praktis. Dampaknya akan langsung dirasakan oleh perkembangan daerah sekitar, terutama Pangandaran yang menjadi tujuan wisata utamanya,” ungkap Dedi.

Meskipun begitu, Dedi mengerucutkan lagi bahwa implementasi proyek tersebut masih memakan waktu lama karena besarnya jumlah dana serta keperluan kerjasama antar berbagai departemen.

“Kami perlu memiliki impian terlebih dahulu. Ketika situasi keuangan memungkinkan, hal itu dapat diwujudkan dengan cepat,” imbuhnya.

Pada saat yang sama, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan bahwa proyek revitalisasi baru berada di tahap diskusi permulaan. Nantinya akan ada pertemuan teknis lebih lanjut dengan Kementerian Perhubungan serta Kementerian Keuangan guna merumuskan strategi pendanaan dan detail implementasinya.

Di luar Banjar–Pangandaran, ada empat rute lain yang termasuk dalamrencana revitalisasi yaitu Bandung–Ciwidey dengan panjang 37,8 kilometer,Garut–Cikajang sepanjang 28,2 kilometer, Rancaekek–Tanjungsari berikutnyaadalah 11,5 kilometer, dan terakhir Cipatat–Padalarang mencakup jarak 17kilometer. Keempat rute tambahan ini ditargetkan untuk meningkatkan keterhubunganantar wilayah dan membantu perkembangan ekonomi lokal.

Apabila reaktifiasi bisa terwujud, masyarakat menginginkan proyek tersebut tidak hanya akan menyulihdayakan lagi moda transportasi tradisional, melainkan juga sebagai penggerak pokok untuk pembangunan dan kesetaraan ekonomi di daerah Selatan Jawa Barat. (CEP) ***

Leave a Reply