Proyek pembangunan yang dimulai sejak beberapa tahun lalu itu hingga kini tak kunjung tuntas, bahkan terhenti hampir setahun terakhir. Meninggalkan bangunan setengah jadi yang tidak difungsikan.
”Terminal Kalijaya sekarang panas banget, kumuh, seperti tidak terurus sejak pembangunan mangkrak,” kata Rizki Pangestu (27), warga setempat di lokasi, seperti dikutip dari Antara, Kamis 18 September 2025.
Dia mengatakan, kondisi itu juga berdampak pada aktivitas perekonomian di sekitar area terminal yang sebelumnya ramai dijadikan tempat singgah para pedagang kecil untuk mencari penghidupan.
Rizki meminta otoritas terkait untuk segera melanjutkan pembangunan hingga tuntas agar Terminal Kalijaya yang selama ini dikenal sebagai titik pemberangkatan maupun kedatangan angkutan darat terbesar di Kabupaten Bekasi kembali ramai dan menjadi pusat berkumpul pengguna moda transportasi publik.
Sherly Novita (25), warga asal Tasikmalaya, turut mengeluhkan Kondisi Terminal Kalijaya Cikarang. Sebagai penumpang tetap di terminal itu, ia mengaku miris melihat kondisi terminal saat ini.
”Fasilitas di sini mengecewakan, tidak ada tempat tunggu dan panas sekali. Kalau bisa segera diperbaiki. Jangan seperti gedung kosong begini,” ucapnya.
Wanprestasi
Mengacu data otoritas terkait, pembangunan terminal dilakukan bertahap melalui skema multiyears sejak beberapa tahun terakhir, dengan pagu belasan hingga puluhan miliar rupiah setahun. Pada tahap lanjutan terkini senilai Rp 22 miliar, justru mangkrak dan berujung pemutusan kontrak kepada kontraktor pelaksana pekerjaan.
”Karena ada wanprestasi dari pihak rekanan pelaksana kegiatan, akhirnya dianggarkan lagi lewat pergeseran (anggaran). Tahun ini kami (anggarkan) senilai Rp 14,9 miliar dengan target selesai dalam 95 hari kerja,” kata Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Pembangunan Terminal Kalijaya, Surya Direja.
Menurut dia, Terminal Kalijaya semula dirancang sebagai smart terminal yang terintegrasi dengan ruang publik dan layanan hotel. Namun, pemangkasan anggaran dan keterlambatan pekerjaan membuat desain awal direvisi berkali-kali.
”Banyak yang tidak sesuai dengan konsep awal. Tahun ini harus selesai, meski dengan memangkas beberapa bangunan,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat Muhamad Rohadi menegaskan, pihaknya terus mendorong percepatan penyelesaian proyek, mengingat keberadaan Terminal Kalijaya vital bagi masyarakat serta berada pada lintasan jalur pantura yang padat dan strategis.
”Terminal ini seharusnya selesai tahun 2024, tapi tertunda. Tahun ini dianggarkan lagi Rp 14 miliar. Insyaallah awal Oktober kontraktor mulai bekerja dan Desember selesai. Terminal B ini sangat dibutuhkan masyarakat. Kami minta masyarakat dan media ikut mengawal agar pengerjaan kali ini tidak lagi gagal,” katanya.
Pantauan di lokasi, sejumlah penumpang masih harus menunggu bus di area terbuka tanpa fasilitas memadai. Bangunan terminal yang berdiri setengah jadi lebih menyerupai gedung kosong dibandingkan terminal modern.***