Sumber Dana Hj. Siti Membangun Jalan dan Dua Jembatan Desa

 

Ringkasan Berita:

  • Siti Srimulati membangun jalan sepanjang 2,5 kilometer dan dua jembatan di Desa Plumbon menggunakan dana pribadi
  • Dana pembangunan berasal dari tabungan pribadi dan hasil penjualan investasi emas milik Siti Srimulati
  • Proyek ini selesai dalam waktu tiga bulan dan kini telah memberikan manfaat ekonomi bagi warga setempat.

MSR Engineering – Jalan baru sepanjang sekitar 2,5 kilometer kini membentang membelah kawasan perbukitan dan hutan di Desa Plumbon, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Di balik kehadiran akses yang dilengkapi dua jembatan tersebut, tersimpan kisah tentang kepedulian seorang perempuan tua yang membiayai seluruh proses pembangunannya menggunakan tabungan pribadinya.

Perempuan itu adalah Hj Siti Srimulati (72) dari keluarga H Sudar.

Tanpa mengandalkan anggaran pemerintah maupun bantuan sponsor, ia mewujudkan pembangunan jalan yang selama bertahun-tahun diimpikan masyarakat demi mempermudah akses menuju kawasan pertanian dan perkebunan.

Jalan tersebut kini menjadi harapan baru bagi warga Desa Plumbon yang sebagian besar bekerja sebagai petani.

Sebelum akses tersebut tersedia, masyarakat harus menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan untuk mencapai lahan pertanian mereka.

Keinginan Hj Siti untuk membangun jalan sebenarnya telah tumbuh sejak 2016, setelah ibu mertuanya meninggal dunia.

Momen itu membuatnya merenungkan keberadaannya di Desa Plumbon.

Meskipun bukan penduduk asli, ia merasa telah diterima dengan baik oleh masyarakat setempat, tetapi belum sempat memberikan manfaat yang berarti bagi desa tersebut.

Saat ini, Hj Siti tinggal bersama suaminya di Jakarta.

Suami itu adalah putra asli Desa Plumbon, sehingga dia cukup sering pulang ke kampung halaman keluarganya.

Ingin Memberikan Manfaat

Dalam perenungannya, Hj Siti merasa termotivasi untuk meninggalkan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Saya pikir, saya sudah lama diterima di sini, diterima dengan baik oleh masyarakat, tetapi belum pernah memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk mereka,” kata Hj Siti Srimulati saat ditemui di ujung pembangunan jalan tersebut, Senin (6/7/2026).

Tekad itu semakin kuat setelah ia melihat besarnya potensi kawasan hutan dan lahan pertanian di desa tersebut yang belum berkembang optimal akibat keterbatasan akses jalan.

Saat itu, petani harus berjalan kaki dari pagi hingga sore hanya untuk mencapai kebun yang terletak di daerah pegunungan.

Kondisi tersebut membuat sebagian lahan produktif tidak lagi dikerjakan karena kesulitan dalam mengangkut hasil panen.

“Saya melihat potensi hutan itu bagus, tetapi tidak ada jalan. Saya berdoa, jika suatu saat Allah memberi rezeki, saya ingin membantu membuat jalan,” katanya.

Peluang untuk mewujudkan niat tersebut datang ketika Hj Siti membeli sebidang sawah milik saudaranya yang dijual untuk membiayai keberangkatan ibadah haji.

Setelah memiliki lahan di kawasan tersebut, ia semakin mantap membuka akses jalan yang dapat dimanfaatkan masyarakat menuju area pertanian di sekitarnya.

Jual Emas Hingga Gunakan Tabungan

Dalam proses pembangunannya, Hj Siti memilih menggunakan dana pribadi tanpa mengajukan bantuan kepada siapa pun.

Semua biaya pembangunan diambil dari tabungan yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun.

Ketika dana yang tersedia belum mencukupi, ia memutuskan untuk menjual emas yang selama ini dijadikan sebagai investasi.

Menurut Hj Siti, emas memang menjadi pilihan utama untuk menyimpan nilai kekayaannya sejak puluhan tahun lalu. Saat harga emas mengalami kenaikan, ia memanfaatkannya untuk membiayai pembangunan jalan tersebut.

“Dulu saya lebih sering membeli emas sedikit demi sedikit. Ketika harganya naik, saya jual untuk membangun jalan ini,” katanya.

Meskipun demikian, Hj Siti enggan mengungkapkan total dana yang telah dialokasikannya.

Bagi dia, besarnya biaya bukanlah sesuatu yang perlu diketahui publik karena seluruh pengorbanan itu diniatkan sebagai ibadah.

“Jika ditanya berapa biayanya, saya tidak akan menjawab. Itu urusan saya dengan Allah,” kata Hj Siti kepada Kompas.com yang ingin menanyakan besaran biaya yang dikeluarkan.

Pembangunan jalan dimulai pada 21 April, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Menurut Hj Siti, tanggal tersebut dipilih sebagai simbol dimulainya cita-cita yang telah lama ia simpan.

Selama sekitar tiga bulan, pembangunan dilakukan hingga akhirnya jalan sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer beserta dua jembatan penghubung berhasil diselesaikan.

Akses baru ini kini membelah kawasan hutan dan melewati sejumlah aliran sungai kecil yang sebelumnya sulit diakses.

Proses pembangunan juga mendapat dukungan dari masyarakat setempat.

Sejumlah pemilik lahan bersedia menghibahkan sebagian tanah mereka agar jalur jalan dapat dibangun tanpa hambatan. Sebagian lainnya juga menjual lahannya untuk mendukung pembangunan.

“Alhamdulillah saya dimudahkan. Banyak warga yang memberikan sebagian tanahnya untuk jalan, sebagian juga membeli. Ada yang belasan meter, ada yang puluhan meter untuk dibuat jalan,” katanya.

Kini, keberadaan jalan tersebut mulai memberikan manfaat bagi aktivitas masyarakat.

Akses menuju kebun yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor hanya dalam beberapa menit.

Ibu Siti berharap kemudahan akses tersebut dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga karena hasil panen menjadi lebih mudah diangkut.

“Sekarang sekitar 10 menit sudah sampai. Warga bisa membawa hasil bumi dengan lebih mudah. Harapan saya, pendapatan mereka juga ikut meningkat,” katanya sambil tersenyum.

“Saya ingin apa yang saya lakukan ini menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya. Semoga jalan ini membawa rezeki dan kemudahan bagi masyarakat,” katanya.

Informasi lengkap dan berita menarik lainnya di Klub Sehat Jakarta

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Kompas.com

 

Leave a Reply