280 Ruang Kelas di Majalengka Rusak Berat, Siswa Terpaksa Belajar di Bangunan Lapuk

KORAN-PIKIRAN RAKYAT – Sebanyak 280 ruang kelas sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Majalengka dalam kondisi rusak berat. Jumlah tersebut diperkirakan belum seluruhnya terdata karena pihak sekolah tidak melaporkannya atau belum terkunjungi Dinas Pendidikan.

Salah satu contohnya ada­lah Gedung Sekolah SMP Islam Nunuk, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka. Kondisi gedung sekolah itu rusak parah, akibat lama tidak diperbaiki. Sebagian besar meja belajar reyot dan sulit diperbaiki karena keropos.

Kurang lebih sepuluh tahun SMP Islam Nunuk menempati Gedung SD Negeri Nunuk. Pasalnya, gedung sekolah milik SMP Islam Nunuk itu habis tersapu banjir Sungai Cisuluheun. Bangku bangku dan sebagian peralatan sekolah pun ikut tersapu banjir. 

Kini, kondisi bangunan sekolah SD yang diperguna­kan untuk belajar siswa SMP itu pun rusak parah karena belasan tahun tidak pernah diperbaiki.

Jendela dan kusen pintu banyak yang sudah keropos, sebagian jendela berlubang karena bingkainya rusak. Langit-langit ruangan kelas beberapa waktu lalu juga  ambruk.

Sekitar 18 tahun yang lalu, SMP di Nunuk untuk mengakomodir lulusan SD agar mereka bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Di masa itu, lulusan SD jarang yang melanjutkan sekolah ke SMP karena lo­kasinya jauh. Mereka harus ke ibu kota kecamatan yang jaraknya sekitar 12 kilometer dengan menempuh jalan kaki.

“Setiap tahun bangunan terus mengalami penyusutan kondisi. Tingkat kerusakan ba­ngunan sekolah akan muncul setiap tahun, setidak­nya yang semula rusak se­dang kondisinya bisa naik menjadi rusak berat,” ungkap Bupati Majalengka Eman Suherman, Selasa 5 Agustus 2025.

Eman mengatakan, jumlah ruang kelas yang mengalami kerusakan tersebut rencananya akan diperbaiki tahun ini. Jika tidak terselesaikan, paling lambat perbaikan selesai di tahun 2026 mendatang.

Menurut dia, pihak sekolah atau pemerintah desa untuk segera melaporkan mengenai kondisi sekolah yang ada di wilayahnya masing-masing. Jangan sampai ada sekolah rusak namun tidak dilaporkan sehingga tidak terdata secara benar, akibatnya kerusakan terus belanjut dan siswa kesulitan belajar.

Rawan ambruk

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Bandung Barat. Tak kunjung tersentuh perbaikan oleh pemerintah, kondisi sejumlah ruangan kelas Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) 2 Cipeundeuy rusak parah dan rawan ambruk di Kampung Cinangsi, Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat. Dampaknya, keselamatan siswa terancam dan kegiatan belajar mengajar pun digelar di laboratorium.

Pantauan “PR” pada Selasa 5 Agustus 2025, kerusakan terparah terjadi di ruangan kelas VIII B. Lubang besar tampak di dinding atauk tembok ruangan itu. Lubang-lubang lain juga terlihat di bagian dindingnya. Keadaan serupa tam­pak di bagian langit-langitnya.  Ruangan tersebut sudah tak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Anwar (31), staf sarana SMPN 2 Cipeundeuy mengungkapkan, ruangan itu rusak karena terdampak gempa yang melanda Cianjur pada 2022 lalu. Imbas gempa membuat bagian dinding ruangan rontok. Keadaan tersebut membuat siswa kelas VIII B dipindahkan ke ruangan lain.

“Dugi ka dieu makin parah (Semakin ke sini kerusakan bertambah parah),” kata Anwar kepada “PR” yang me­nyambangi sekolah itu, Selasa pagi.

Selain kelas VIII B, ruangan lain yang rusak dan tak dipakai adalah kelas IX F. Ruangan kelas itu sudah lapuk dengan lubang-lubang bertebaran di plafonnya. Anwar mengatakan, ruangan tersebut sudah tak digunakan sejak 2023 karena kondisinya sudah rusak.

“PR” juga mendatangi salah satu ruangan laboratorim sekolah itu. Keterbatasan sarana belajar membuat laboratorium itu dipakai sebagai ruangan kelas.

Adang (52), guru SMPN 2 Cipeundeuy mengungkapkan, kerusakan terjadi pula di ruangan kelas IX E dan VII E. Tak cuma itu, laboratorium komputer di bagian depan sekolah bernasib serupa. 

Bantuan

Sekolah, kata Adang, sudah mengajukan permohonan bantuan perbaikan kerusakan kepada kepada pemerintah. Bahkan, Dinas Pendidikan KBB juga telah melakukan pe­ninjauan. Laporan kerusakan muncul pula dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Namun, perbaikan tak kunjung dilakukan.

Adang berharap, pemerintah segera memperbaiki kerusakan fasilitas pendidikan ter­sebut. Pasalnya, jumlah siswa di SMPN 2 Cipeundeuy terbilang banyak mencapai 710 murid.

Rusaknya bangunan SMPN 2 Cipeundeuy menambah daftar panjang kondisi memprihatinkan sekolah-sekolah di wilayah KBB. “PR” sempat pula mewartakan kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cikalapa yang empat ruangan kelasnya rusak dan menyebabkan murid belajar di perpustakaan dan mu­sala.

Pantauan “PR” pada Jumat 1 Agustus 2025 mendapati dua ruangan kelas di SD yang berlokasi di Kampung Cikalapa, RT 2 RW 7, Desa Rajamandalakulon, Kecamatan Cipatat dalam keadaan memprihatinkan. Soalnya, dua ruangan itu masing-masing kelas VI B dan IV B sama sekali tak memiliki langit-langit atau atap di bagian atas. (Bambang Arifianto, Tati Purnawati)***

Tinggalkan Balasan